Aku dan Aliyah..


Aliyah?
Ya.. Itulah sekolah ku. Sekolahku adalah salah satu Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta. Sekolah setingkat dengan SMA namun berada di bawah departemen agama. *cari tau sendiri aja ya MAN berapanya…. :D*

Kenapa aku bisa ‘kecemplung’ sekolah di aliyah? Tetangga, saudara, bahkan guru dan beberapa orang tua teman SMP mempertanyakannya. Nilai aku cukup baik dan sebenarnya bisa masuk SMA negeri favorite di depok. Bahkan aku sama sekali tidak daftar ke SMA negeri…

Jawabannya..
Karena hasil diskusi! Ya.. Aku akhirnya sekolah di aliyah karena hasil diskusi antara aku, ummi, abi, dan mas galih. Pertimbangannya karena aku cukup baik di bahasa arab, hobi masak (di MAN ada pilihan keterampilan memasak seminggu sekali), totally belum kuat untuk sekolah di SMA negeri (dari TK sampai SMP aku sekolah di sekolah islam terpadu), pelajaran di MAN sama seperti SMA, lepas dari bayang-bayang mas galih, dan alasan terakhir…. MAN bisa menjadi lahan dakwah! Tunjukkan ke orang-orang kalau madrasah aliyah tak seburuk pandangan mereka! Subhanallah.. Ummi abi the best lah!😀

Pada akhirnya masa aliyah menjadi salah satu masa kehidupanku yang paling berkesan. Di sanalah untuk pertama kalinya aku berdiri sendiri tanpa bayang-bayang ‘kebesaran’ sosok mas galih dan keluar dari zona nyaman-aman ku.

Jujur.. Tak mudah menjalani awal kehidupan aliyah. Apa yang kubayangkan tentang madrasah aliyah yang pada dasarnya adalah sekolah islam rasanya lenyap! Budaya kehidupan islami justru terasa kering… Siswi perempuan berjilbab sekenanya, banyak yang berseragam ga rapih, ‘trend’nya aneh-aneh, hampir tak ada hijab antara laki dan perempuan, guru perempuannya ‘dandan’, siswa dan guru laki-laki mayoritas perokok, siswa bisa bawa gitar, susah ngadain acara mabit! dll. Jauh berbeda dari sekolahku sebelum-sebelumnya……

Perbedaan yang sangat jauh membuat aku merasa paling benar, ‘lebih hebat’ dari mereka dan ‘lebih keren’ dari mereka. Di awal sekolah aku terkenal sombong dan ‘aneh’. Keanehan aku dimulai dari test masuk aliyah. salah kostum! Harusnya ujian berseragam SMP tapi aku malah memakai baju bebas dengan jilbab lebar. Salah kostum terulang lagi saat awal masa orientasi siswa. Aku memang benar berseragam SMP, tapi seragam SMPku berbeda warna dengan teman-teman. Seragam SMP ku jilbab dan baju berwarna biru muda sedangkan semua teman-teman baju dan jilbabnya berwarna putih. Dan…….. Di aliyah pertama kalinya aku kenal dengan ”nisfu sya’ban” dan marawis! *Wow! Kamu dari dunia mana pit??? :p * aku juga kekeuh pada prinsip tidak mau salim dengan guru laki-laki karena memang bukan muhrim, sedangkan budaya di aliyah harus tetap salim! Belum lagi aku yang kekeuh tidak mau sholat dengan mukena atasan krn merasa pakaian yang kukenakan sudah syar’I. Tak hanya itu. Keanehan lainnya adalah, sikap aku terhadap teman laki-laki. Aku sangat menghindari salaman dan ‘tos’. Pinjam meminjam barang dengan teman laki-laki pun menjadi unik bagi mereka karena aku akan memegang ujung barang agar tak bersentuhan. Aku juga bisa pasang muka sangat galak kalo ada yang menegurku dengan cara menepuk pundak.

Haduh.. Sungguh tersiksa…….
Sebegitu jauhnya kah perbedaan aku dengan mereka??? Benarkah sikapku?

Ummi akhirnya bisa ‘membaca’ ketidaknyamanan ku dan memotivasiku untuk tetap bertahan di aliyah. Part ini yang membuat aku merasa hebat punya orang tua seperti mereka. Motivasi dakwahnya dapet bgt! Mendidik memang tidak selamanya memberikan kenikmatan. That’s real life honey! ummi abi says “justru situasi seperti itu yang bisa menjadi lahan dakwah mba. Warnailah mereka, jangan sampai mba yang terwarnai”

Alhamdulillah secara perlahan aku bisa beradaptasi. Aku mampu bertahan. Tak sekedar bertahan, sedikit demi sedikit aku mampu berkontribusi..

Langkah awal perubahan dirasakan setelah bergabung di ROHIS. Dari sana aku bertemu kakak-kakak yang keren dan sangat membantuku beradaptasi dan belajar toleransi dalam berfiqih. Beberapa guru dan teman sekelas juga membantuku beradaptasi sekaligus berprestasi.

Syukur yang tiada terkira adalah aku bergabung di kelas ipa A. Wow banget nih kelas!! Random! 3 tahun tak terpisahkan. Huaaa… aku mencintai mereka semua.. :”)

Dari ipa A aku jadi belajar kehidupan sesungguhnya. Rasa syukur rasanya semakin menebal… Mereka bisa sabar menghadapiku di awal yang sangat sombong, menerima, dan menghormati ‘keanehan’ku. Bahkan sampai detik ini, sikap mereka terhadapku tak berubah.. Ipa A the best!😉 cuma mereka yang pernah melihatku ngakak, nangis, teriak-teriak hedon, dan dihukum dalam satu masa aliyah… Hehehee!

*edisi kangen ipa A*
Berdasarkan ide melisa, next post –> Stress UN 2008😀

Categories: My Life | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: