I Have a Great Mom: Ummi dan TKW


Tidak berlebihan jika saya menyebutnya “great mom!”. Sehari-hari saya memanggilnya dengan banyak sebutan🙂 mulai dari mom, bun, bunbun, sampai ummi. Ah… Saya paling senang memanggilnya dengan panggilan ’ummiiiiiii….’ ♥

Ummi telah sukses mengisi dasar-dasar kehidupan untuk anak-anaknya (kalo menemukan saya, kakak, dan adik “ngaco” itu karena kesalahan kami semata.. hehehee..). Cara ummi mendidik kami benar-benar dengan teladan dan dasar agama yang sangat kuat. Kejadian tanggal 31 Juli 2013 menjadi salah satu contoh ummi mendidik anak-anak dengan keteladanan. Hari itu membuatku sangat kagum dengan “my great mom”. Ummi benar-benar menunjukkan bagaimana ikhlas menolong orang, pentingnya prinsip, dan jangan pernah tsayat terhadap apapun kalau kita benar.

31 Juli 2013

Hari ini kakak pulang ke Indonesia dari Taiwan untuk liburan kuliah. Saya bersama abi, ummi, dan adik menjemputnya di Bandara Soekarno Hatta Terminal 2D.

Pesawat yang ditumpangi oleh kakak landing lebih cepat 10 menit dari jadwal, 14:45 WIB. Alhamdulillah.. Kami segera merapat ke pintu keluar kedatangan terminal 2D. Kami tidak perlu menunggu kedatangan kakak terlalu lama.

Sambil menunggu kakak keluar, saya asyik memperhatikan keriuhan orang-orang sambil sesekali diskusi dengan ummi. Perhatian saya dan ummi sama-sama tertuju pada kedatangan TKI dan turis asing yang “dipepet” oleh orang yang menawarkan jasa angkutan. Diskusi ringan tentang TKI dan keamanan-kenyamanan bandara tak terelakkan dari percakapan. Di tengah diskusi,  kami bahagia melihat TKI yang kedatangannya disambut oleh keluarga. Mereka terlihat sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan keluarga tercinta :’) .

Pernahkah kalian memperhatikan bagaimana bingungnya TKI (saya mengkhususkannya dengan TKW, karena hanya memperhatikan TKW..🙂 ) yang saat keluar dari pintu kedatangan tidak menemukan keluarga/orang yang dikenal untuk menjemputnya? Saya dan ummi memperhatikan dengan seksama. Kebetulan ada tiga orang TKW yang berada sangat dekat dengan saya dan ummi. Mereka terlihat bingung karena keluarganya tidak terlihat datang menjemputnya. Sekitar lima orang laki-laki mendekati tiga orang TKW ini. Mereka menawarkan berbagai macam “bantuan”. Mulai dari minta liat HP si TKW biar bisa “membantu” menghubungi keluarganya, sampai menawarkan jasa untuk mengantar pulang. Intinya laki-laki ini berisik banget! Alhamdulillah dua orang TKW tidak perlu lama-lama berurusan dengan laki-laki “berisik” itu. Mereka menemukan keluarga yang menjemputnya. Kini, tinggal seorang TKW yang terlihat sangat bingung dan mulai menangis karena panik. Anggota keluarga yang akan menjemputnya masih belum terlihat. Laki-laki “berisik” itu terus saja berbicara. Mereka sengaja membuatnya panik. Nah… saatnya ummi beraksi. Ummi benar-benar tidak tahan melihat kondisi itu yang sangat dekat dengannya. Ummi yang saat itu sedang duduk langsung berdiri dan dengan tegas menegur para laki-laki “berisik” untuk diam agar memberikan kesempatan pada TKW ini untuk berpikir apa yang akan dilsayakannya. Beberapa dari mereka tetap menekan TKW tersebut dan satu orang menjawab dengan nada merendahkan ummi, “kita cuma nawarin bantuan”.. Akhirnya ummi teriak dan marah-marah,”bisa diem ga sih?? Biarin aja dulu mba ini mikir dulu!! Ga usah ditanya-tanya! Orang dia bilang keluarganya mau jemput!” Laki-laki “berisik” itu kaget dibentak oleh ummi.    wooooww.. saya juga benar-benar kaget. Saya sudah lama tidak melihat ummi berteriak dan marah seperti itu. Muka ummi sampai memerah karena sangat kesal. Saya menggenggam lengan ummi. Ummi kini bisa lebih mengatur emosinya. Secara lembut ummi berbicara dengan TKW yang sudah sangat bingung. Ternyata TKW ini perlu membeli kartu perdana HP untuk menghubungi keluarga yang akan menjemputnya. saya dan ummi mengantarnya ke dalam gedung bandara kembali untuk mencari toko HP. Saya menghampiri abi untuk menceritakan sekilas kejadian tadi dan ijin untuk mengantarkan TKW (Sebut saja TKW itu bernama Ani. Dia berasal dari Cianjur) ke dalam gedung bandara. Abi memberi ijin, saya segera menyusul ummi dan teh ani yang sudah masuk terlebih dahulu. Siiiip! para laki-laki “berisik” tidak lagi mengganggu teh ani..

Di dalam, teh Ani ini terlihat lebih tenang dibandingkan saat di luar tadi. Karena dia masih terlihat panik, ummi berusaha menenangkannya dan menuntun perlahan apa yang sebenarnya diperlukan olehnya. Ternyata dia perlu menukar uang. Oke. Saya dan ummi menemaninya ke money changer yang berada di lantai 2. Walaupun ke lantai 2, barang bawaan teh Ani tetap kami bawa agar dia merasa lebih aman. Di money changer saya dan ummi melihat uang yang ditukarkannya lumayan banyak. Selesai menukar uang, ummi menyuruhnya untuk tidak menaruh uang dalam satu amplop. Agar aman, cukup ambil uang seperlunya untuk ditaruh di dompet dan sisanya dibagi dalam beberapa bagian di dalam tas. Sudah beres dengan urusan uang, teh Ani ini perlu ke toko HP untuk membeli kartu perdana HP agar bisa menghubungi keluarga yang akan menjemputnya. kita kembali ke tempat awal, lantai 1 dekat pintu keluar kedatangan. Di lantai 1 dekat dengan pintu keluar kedatangan terdapat toko HP. Saat melewati pintu keluar kedatangan terminal 2D, saya dan ummi melihat kakak sudah ada! Alhamdulillah… saya dan ummi menghampirinya sejenak melepas rindu. Ya sejenak. Teh Ani baru ditinggal sebentar aja udah didatengin lagi sama si laki-laki “berisik”. Ummi buru-buru menghampiri teh Ani. Dengan nada meledek, si laki-laki “berisik” bilang ke teh Ani, “tuh, ikutin ibunya”. Hmm.. ummi sebenarnya mendengar nada ledekan. Tapi ummi tidak menanggapinya. Ummi segera menuntun kembali teh Ani ke dalam. Kini abi, adik, dan kakak juga ikut menemani teh Ani. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB. Teh Ani sudah membeli kartu perdana untuk HP-nya dan ini saatnya abi, adik, dan kakak pergi ke musholla untuk sholat ashar terlebih dahulu. Ummi belum tenang meninggalkan teh Ani. Ummi baru pergi ke musholla setelah memastikan teh Ani menemukan no HP keluarganya. Saya dan teh Ani menunggu di bangku yang berada di dekat loket informasi karena saya harus menunggu barang bawaannya kakak yang banyak. Lumayan ribet kalau tidak duduk karena tidak ada troli. Saya masih melihat teh Ani  panik. “gimana teh, bisa dihubungi? Pelan-pelan aja ga usah panik. ditungguin kok teh. Tenang aja..” saya menenangkannya. Dia mengiyakan tetapi rasa paniknya masih saja terlihat… Dia sibuk dengan HP-nya. Abi, adik, dan kakak sudah selesai sholat kemudian menghampiri saya dan teh ani. Abi melihat teh Ani ini masih sibuk dengan HP-nya. Ah.. ternyata baterai nya habis. Dia butuh charger HP. Alhamdulillah kakak bawa power bank dan HP teh Ani ini terselamatkan dan dia bisa menghubungi keluarganya… tahukah apa yang terjadi……..? ternyata keluarganya masih ada di ciawi saudara-saudara…….. teh Ani bilang, “saya sudah bilang untuk jemput saya di bandara jam 3 sore. Ternyata mereka baru berangkat dari rumah jam 3 sore..”. fiuh.. tapi Alhamdulillah. Yang pasti kita sudah dapat kepastian bahwa teh Ani ini benar akan dijemput. Sebelumnya kita sudah menawarkan alternatif lain kalau memang tidak di jemput. Kitapun sama-sama menekankan agar teh ani menunggu di dalam bandara. Jangan keluar dan bertemu dengan laki-laki “berisik” lagi ataupun orang tak dikenal lainnya. Setelah mendapat kepastian, kita pamit. Teh Ani ini kini sudah terlihat tenang.. kita berpamitan dan berpisah. Semoga selamat sampai rumah ya teh..🙂

Renunganku..

>> begitulah ummi. Saat menolong orang lain tidak pernah memikirkan apa-apa. Spontan. Walaupun kedatangan kakak sangat dinantikan, ummi lebih fokus “menyelamatkan” teh ani.

>> saat ada yang tidak sesuai dengan hati nurani, bertindaklah! Kalau kita benar, kita tidak perlu takut. Jilbab jangan jadi penghalang untuk “galak” di saat harus menampakkan suatu ketegasan.

>> betapa tidak amannya bandara bagi “orang asing”…

>> bisa-bisanya orang mencari keuntungan dari kesulitan orang lain. Ga kebayang kalau teh ani yang sudah bekerja 2 tahun di saudi uangnya lenyap di tangan-tangan yang tidak berhak! Sesulit apapun keadaan, sumber nafkah harus tetap halal. Kalau nafkah berkah itu pasti akan mampu memenuhi kebutuhan dan menenangkan hati..

Ummi selalu berusaha menjadi ibu terbaik, dan buatku ummi sudah berhasil jadi ibu terbaik! Tidak hanya jadi ibu terbaik, tetapi jadi orang baik untuk sekelilingnya..🙂

Categories: My Life, parenting | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: