Saat Abi Bicara Pernikahan


Sebelum ada postingan ini, saya pernah posting tulisan dengan judul yg nyaris sama “Saat Ummi Bicara Pernikahan”. Ummi dan abi sebagai orang tua ingin pernikahan yang sempurna untuk anak-anaknya. Tak terasa ketiga anaknya sudah semakin dewasa. Apalagi si putra sulung dan si putri satu-satunya sudah berada di usia ‘layak’ menikah. Diskusi-diskusi tentang pernikahan tak mungkin dihindari. Kok rasanya makin kesini makin sering yaaaa….. *mendadak ngitungin undangan nikahan orang yang numpuk sambil inget-inget umur :p *

Hmm…seperti saat ini. 16 oktober 2013 saat matahari mulai beranjak pergi. Diskusi abi tentang pernikahan kali ini membuat saya jadi mikir dan ingin share di blog. Tulisan ini Insya Allah bisa bermanfaat untuk orang banyak dan bisa menjadi bahan pelajaran untuk saya hingga anak-anak saya kelak…

Untuk urusan cara memilih dan menentukan calon pasangan, saya memang punya sedikit perbedaan prinsip dengan abi. Abi agak mengijinkan ‘pacaran’ yang bertujuan untuk menikah agar lebih mengenal si calon😦 Jujur saja awal diskusi agak malas menanggapi abi yang kurang setuju dengan sistem taaruf lewat guru ngaji. Lagi-lagi abi mengeluarkan kata pamungkasnya “segala sesuatu yg baik kalo ga tepat jadi ga baik“. Hmm… namanya juga diskusi ya.. pada akhirnya saya menangkap maksud abi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sistem taaruf. Yang salah adalah beberapa pelaksanaan yang dilakukan oleh beberapa pihak. Saya sependapat dengan abi jika sudah diberikan pilihan oleh guru ngaji, bagaimanapun orang tua harus dilibatkan. Si calon harus diketahui asal usul sejelas-jelasnya selengkap-lengkapnya. Kalo kata abi sih, abi pasti akan datengin rumah si calon. Introgasi si calon. Wah… mendengar pernyataan itu dari mulut abi rasanya langsung tenang, bahagia, dan bersyukur punya abi yang keren!

wpid-IMG_20131029_113117.jpg

Abi salah satu orang yang tidak setuju dengan pernikahan dini. Tidak hanya dini dari segi usia, dini dari segi finance dan pendidikan juga jadi perhatian abi. Abi sangat tidak suka melihat laki-laki yang belum mapan berani melamar anak orang. Menjadi laki-laki harus mampu mandiri. Bagaimana bisa bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya kelak kalau segala hal masih mengandalkan pihak lain.

jika abi menanamkan kepada anak laki-lakinya untuk mapan, lain halnya dengan anak perempuannya. bukan tidak diajarkan mapan, tapi jauh lebih spesifik! anak perempuannya deberikan treatment yang berbeda. sedari aku duduk di bangku sekolah, abi sangat tidak menganjurkan kelak anak perempuannya bekerja kantoran atau menjadi wanita karir. sehebat apapun perempuan akan lebih baik jika perempuan yang sudah menikah lebih banyak di rumah. aku diarahkan menjadi guru. sedari dini aku juga sudah berkenalan dengan jahit, rajut, dan memasak. kini……… memasak lah yang menjadi pilihan saya untuk ditekuni.

Pertimbangan memilih calon memang dari baik agamanya. Abi berkeyakinan (saya juga setuju banget!), kalau laki-laki memang tahu baik tentang agama dia akan tahu bagaimana bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam menafkahi keluarganya dan bertanggung jawab melindungi keluarganya.

Abi dan ummi sepaham (anak-anak udah di doktrin sedari usia remaja) jika suatu saat anak menikah, sang anak harus keluar dari rumah. Tidak ada istilah mau melahirkan pulang ke rumah, nitip istri, nitip anak.. :O

Saat sudah menikah jangan biarkan orang tua mengetahui banyak ‘urusan’ rumah tangga kita. Sangat sulit dan sangat jarang orang tua mampu melihat masalah pernikahan anaknya secara objektif..

Jangan pernah sekalipun bertengkar di depan anak. Sekali saja bertengkar di depan anak, sang anak akan menyimpan memori pertengkaran orang tuanya secara rapih. Untuk hal ini, ummi yang selalu mengingatkannya. Ummi pernah merasakannya. Sampai sekarang ummi masih menyimpan memori beberapa pertengkaran orang tuanya.. oleh karena itu sampai saat ini ummi sangat menjaga komunikasi dengan abi. Ummi tak ingin anak-anak punya pengalaman yang sama dengan ummi (saya sampai saat ini belum pernah melihat ummi abi bertengkar! Salut..)

banyak hal yang bisa saya pelajari dari pernikahan ummi abi yang sudah berjalan hampir 27 tahun (9 november nanti pas 27 tahun🙂 ). Pembicaraan abi dan ummi tentang pernikahan semata-mata untuk pelajaran kehidupan bagi anak-anaknya.. ummi ataupun abi, selayaknya orang tua pada umumnya menginginkan pernikahan yang sempurna untuk anak-anaknya kelak.. hmmmm… pelajaran yang tidak ada di buku manapun😉

Categories: All about Love | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: