Seserahan dan Mahar Pernikahan #PalupiBary


Saya termasuk salah satu tipe bride to be yang ga suka ribet. Cukup pegang prinsip memilih barang-barang seserahan yang BERMANFAAT dan SESUAI BUDGET CALON SUAMI. Untuk urusan bentuk seserahannya, saya ga punya keinginan yang harus warna apa, bentuk apa, buat di mana, dan sebagainya (calon ibu mertua sampai bingung, nih anak pasrah banget). Heheee… buat saya yang penting…. isinya!😀

Kok pasrah gitu pit? | Ga pasrah kok.. karena pada dasarnya saya tidak  ada warna yang terlalu favorite dan menurut saya terlalu mubadzir kalo seserahan dibentuk aneh-aneh yang mengeluarkan banyak biaya.

Lamaran dilaksanakan 4 bulan sebelum akad nikah. Walaupun jaraknya lumayan lama dari akad nikah, seserahan tetap kami laksanakan saat lamaran. Ada beberapa pertimbangan kenapa lamaran sekalian seserahan. Pertama, karena di acara lamaran kami ga ada yang namanya tuker cincin (Simbolisnya, calon ibu mertua menyerahkan paket buku-buku pilihan saya ke ibu saya). Kedua, supaya saat akad nikah (akad nikah di gedung) bisa fokus dan ga ribet sama barang-barang seserahan. Si barang seserahan ini juga jadi ga banyak mondar mandir. Soo… akad nikah nanti simple, yang dibawa cuma mahar aja. Ketiga, buku-buku pernikahan bisa kita baca dan gamis-gamis bisa saya kecilin….(maklum tinggi badan saya minimalis >.< )

Barang yang Saya Pilih
1. Sepatu dan tas
2. Mukena
3. Kosmetik (diantara semua barang, milih kosmetik paling susah >.< alhamdulillah si mba-mba penjual kosmetik sangat membantu)
4. Pakaian dalam
5. Bed cover
6. Handuk
7. Gamis
8. Buku

Sangaaaat simple. Saking simple-nya, pihak calon suami inisiatif nambahin isi seserahan perlengkapan mandi dari mustika ratu. Heheee….

Mahar Pernikahan
Alhamdulillah sudah pernah belajar fiqih pernikahan (bahasannya dipertegas lagi saat pengajian pekanan karena saya dan salah satu teman akan menikah) dan salah satu pembahasannya mengenai mahar pernikahan. Sebaiknya, mahar memang yg ringan. Tapi… bukan berarti tidak boleh memilih yang berharga loh. Intinya tidak memberatkan calon suami.

Saya tidak memilih mahar mukena dan uang yang dibentuk-bentuk dengan pertimbangan, mahar ini sebisa mungkin ‘bernilai’ dalam jangka waktu yang panjang. Sama sekali ga kepikiran nanti kata orang apa, nanti ga berkesan lah, kok ga seperti orang-orang, dan sebagainya. Mukena sudah cukup di seserahan, uang rupiah hmmm… nilainya kok ya ga jelas >.< seberapapun budget mahar, lebih baik di ’emas’-kan atau dalam bentuk perhiasan.

Categories: PalupiBary's Wedding | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: