Tak Sekedar Gelar Ibu


Setiap perempuan mungkin bisa dengan mudah mendapat gelar ibu karena memiliki anak. Mempertanggungjawabkan gelar ibu? Hm.. beraaaatt…….

17 November 2016
Imunisasi DPT keduanya Rama tetap dilakukan di puskesmas. Ke puskesmas membuatku banyak bersyukur. Allah seperti menepuk,”pit, kamu harus jauuuuh lebih bersyukur. Suamimu siaga mengantarkan, suami tidak merokok, diantara mereka banyak yang ekonominya lebih sulit, anakmu sehat, ASImu lancar! Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban.. nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Antrian imunisasi seperti biasa lumayan panjang. Tempat antrian imunisasi lagi dibongkar. Pasien yang mau imunisasi tersebar. Saya memilih menunggu di depan ruang konsultasi gizi karena lebih nyaman dan sepi. Saat menunggu di depan ruang konsultasi gizi, saya disapa ibu-ibu. “Permisi ya bu numpang duduk. Ke gizi juga bu?”. Sapaan awal itu ternyata membuat kami ngobrol panjang.

Sebut saja Ibu Kya ya.. ibu kya ini memiliki anak laki-laki seumuran Rama. Umur anaknya lebih tua beberapa pekan. Ibu Kya tampak nyaman berbicara dengan saya karena kami sama-sama berjilbab, memiliki 1 anak laki berusia 5 bulan dan menjadi ibu rumah tangga tanpa ART. Saya mendengarkan ceritanya dengan berbagai macam perasaan. Ah.. Allah sedang menepukku.

Anaknya Ibu Kya memiliki berat badan kurang. Atas saran ibu-ibu posyandu di daerah rumahnya, Ibu Kya dianjurkan untuk konsultasi ke ahli gizi di puskesmas (sebenernya puskesmas itu lengkap loh! saya malah baru tau ada ahli gizi di puskesmas baru-baru ini). Ibu Kya mengeluh. “Duh bu.. saya sudah bingung harus gimana lagi. Anak saya berat badannya masih aja kurang karena ASInya sedikit. Padahal saya udah makan katuk, minum kapsul pelancar ASI. Saya kan capek juga bu harus beres-beres rumah lah. Mana nih anak rewel mulu.”

Pasti tidak hanya Ibu Kya yang mengalami hal serupa. Bahkan yang memiliki ART atau bebannya diringankan orang tua masih saja mengeluh saat berperan jadi ibu. Alhamdulillah saya dan suami bisa kompak. Baik mengurus anak maupun mengurus rumah. Harus dipahami oleh suami, istri di rumah itu bukan berarti istri jadi ART loh.. TAPI… bukan berarti menjadi istri di rumah kerjanya leha-leha. Nikmati setiap pekerjaan yang dilakukan. Apapun!

Rama buat saya nomer 1. Urusan lain harus ditinggalkan saat rama butuh saya. Awal-awal ada Rama adaptasinya luar biasa. Capek? pasti! Nangis? Pernah.. Alhamdulillah suami tidak pernah keberatan untuk nyuci piring, memijat saya, dan……… dia paling ahli mengubah tangisan saya menjadi seyum >.<

Memutuskan menikah dan akhirnya memiliki anak membuat saya belajar tidak egois. Sejauh ini saya belum pernah meminta secara khusus me time ke suami. Suami dan anak bisa kok jadi pelipur lelah kalau kita bisa menikmati gelar ibu. Jalan-jalan ke mall sama suami dan anak (saya kapok kalo jalan-jalan ke mall. Capek.. selama 6 bulan ada Rama, ngemall baru dua kali itupun terpaksa karena nyambi ada urusan), menikmati coklat hangat berdua suami sambil nonton film, makan sepiring berdua dengan suami, menyusui anak sambil dipeluk suami, jalan pagi keliling komplek, dan masih banyak hal lain yang bisa dinikmati.

Kedekatan Allah harus yang utama. Hanya Allah yang bisa kasih kekuatan untuk saya dan kalian yang bergelar ibu tetap berdiri kuat. Semoga bisa Istiqomah. Semoga bisa mempertanggungjawabkan salah satu karunia terbesar dari Allah, gelar IBU.

Advertisements
Categories: My Life | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: